Rabu, 27 Juni 2012


PEMBUATAN PREPARAT JARINGAN HEWAN DENGAN METODE PARAFIN
Laporan Ini Disusun untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Praktikum Teknik Laboratorium
Dosen: Prita Wardhani, M.Si dan Saiful Bahri, S.Si







Disusun Oleh:
Azkiya Banata                                   1111095000006
Danti Pratiwi                                     1111095000038
Innes Genia Sahira                           1111095000005
Muhammad Arif Tanzil                    1111095000044


JURUSAN BIOLOGI
FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA
2012


KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT Tuhan Semesta Alam karena atas izin dan kehendakNya jualah laporan sederhana ini dapat kami rampungkan tepat pada waktunya.
Penulisan dan pembuatan laporan ini bertujuan untuk mengevaluasi hasil praktikum. Adapun yang kami bahas pada laporan ini adalah teknik laboratorium mengenai mikroteknik. Dalam penulisan laporan ini kami menemui berbagai hambatan yang dikarenakan terbatasnya ilmu pengetahuan kami mengenai hal yang berkenaan dengan penulisan laporan ini. Oleh karena itu sudah sepatutnya kami mengucapkan terima kasih k epada dosen yaitu Ibu Prita Wardhani,M.Si dan Kak Saiful Bahri,S.Si yang telah memberikan limpahan ilmu berguna kepada kami.
Kami menyadari bahwa laporan ini masih banyak kekurangan dan kelemahan, sehingga masih jauh dari sempurna. Hal ini disebabkan keterbatasan kami, baik itu dalam kemampuan maupun pengetahuan yang kami miliki. Oleh karena itu, kritik dan saran yang membangun semua pihak sangat kami harapkan untuk kemajuan dalam pembuatan makalah selanjutnya.







  Ciputat, 26 Juni 2012


Penyusun



BAB I
PENDAHULUAN

3.1              Latar Belakang
Mikroteknik merupakan ilmu atau seni mempersiapkan organ, jaringan atau bagian jaringan untuk dapat diamati dan ditelaah serta ilmu yang akan mempelajari metode/prosedur pembuatan preparat mikroskopik. Penelaahan umumnya dilakukan dengan bantuan mikroskop, karena struktur jaringan secara terperinci pada galibnya terlalu kecil untuk dapat dilihat dengan mata telanjang. Ruang lingkup yang mencakup materi mikroteknik dapat diperoleh dari sejumlah definisi dan peristilahan yang bisa dipakai, hanya saja sebaiknya kita mencamkan dalam pikiran kita bahwa suatu spesimen mikroteknik dapat merupakan sebagian atau seluruhan dari struktur yang ditetapkan. Selain dilekapkan dengan kaca preparat, spesimen tadi umumnya dilindungi dengan kaca penutup, yaitu sepotong kaca yang sangat tipis ataupun plastik yang tembus pandang yang direkatkan diatas spesimen tersebut ilmu yang akan mempelajari metode/prosedur pembuatan preparat mikroskopik.
Mikroteknik merupakan teknik pembuatan sediaan atau preparat secara  mikroskopis, tentunya pendekatan teoritis tidaklah memadai untuk memahami secara menyeluruh mengenai mikroteknik, sebab yang namanya teknik lebih menekankan pemahaman pada wilayah aplikatifnya meskipun pada dasarnya landasan teoritis juga diperlukan dalam rangka memberikan beberapa petunjuk yang harus dilalui agar proses pembuatan sediaan sesuai dengan prosedural kerja dan alasan penggunaan ataupun pemilihan bahan yang akan digunakan dalam pembuatan sediaan mikroskopis.
Beberapa metode dalam mikroteknik yang dikenal dalam pembuatan preparat organ hewan maupun tumbuhan, yaitu metode parafin, metode squash, metode asetolisis, metode maserasi dan metode whole mount. Dalam praktikum ini menggunakan metode parafin. Berdasarkan sifat ketahanannya, preparat dapat dibedakan menjadi preparat sementara (preparat basah), preparat semipermanen (1/2 awetan) dan preparat permanen (awetan). Preparat sementara bersifat tidak tahan lama dan biasanya hanya untuk sekali pengamatan. Preparat ini menggunakan medium air atau bahan kimia yang mudah menguap. Preparat semipermanen menggunakan media gliserin dan mampu bertahan untuk sekitar seminggu penyimpanan. Preparat permanen atau preparat awetan merupakan preparat yang diawetkan menggunakan balsam, gliserin jelly, lactophenol atau senyawa lain sebagai agen mountingnya. Sehingga preparat permanen dapat bertahan beberapa lama.
Pengamatan secara mikrokopis dari suatu jaringan yang normal sifatnya maupun yang mengidap sesuatu penyakit (patologis) akan lebih baik hasilnya bila dilakukan dari preparat jaringan yang telah dipersiapkan secara baik, telah dilakukan penyayatan yang cukup tipis, serta diberi pewarnaan yang sesuai, sehingga berbagai elemen jaringan yang diteliti lebih mudah untuk diamati. Dengan demikian, tidak saja penelitian secara mikroanatomi yang dapat dilakukan, tetapi juga memberi kemudahan dalam membedakan berbagai perubahan yang terjadi pada sel-sel jaringan yang diteliti. Adakalanya beberapa jenis jaringan memerlukan perlakuakan yang khusus untuk dapat menelitinya, seperti dalam hal jenis pewaranaan yang harus digunakan untuk sesuatu jenis jaringan tertentu.
3.1              Tujuan
a.       Mahasiswa mampu membuat preparat permanen dari jaringan hewan dengan metode parafin
b.      Mengetahui tahapan-tahapan dari pembuatan preparat dengan metode parafin
c.       Mengetahui fungsi dan cara kerja serta perbedaan antara alat dan bahan dalam pembuatan preparat


















BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Organ adalah susunan dari bagian organisme, yang tujuannya melakukan fungsi tertentu ataupun kesatuan yang erat kaitannya. Hati adalah organ yang mempunyai banyak fungsi, akan tetapi sebagai kesatuan fungsi maka hati ini erat kaitannya dengan pencernaan dan asimilasi makanan.
Jaringan adalah kumpulan sel yang mempunyai fungsi tertentu yang khas bagi perkembangannya. Sebagai contoh jaringan epitelia dapat terdiri dari satu atau beberapa lapisan sel yang telah berkembang dan membantuk lapisan penutup, Jenis jaringan lainnya, jaringan otot terdiri dari  sel-sel yang reka membentuk otot.
Sel adalah bagian yang merupakan penyusun dasar suatu jaringan, dan pada kenyataannnya merupakan bagian dari semua makhluk hidup. Suatu sel dapat merupakan organisme yang lengkap, ataupun sejumlah sel dapat bergabung membentuk suatu jaringan, kombinasi penyusunnya membentuk orga-organ. Bentu-bentuk kehidupan berderajat tinggi sekalipun dimulai dari satu sel. Bila suatu organisme hanya teridiri dari satu sel, maka dinamakan Organisme Uniseluler. Sedangkan yang terbentuk oleh kumpulan sel-sel yang berbeda fungsinya dinamakan Organisme Multiseluler.
Dalam pembuatan preparat jaringan dapat digunakan dengan metode parafin. Metode ini banyak digunakan, karena hampir semua macam jaringan dapat dipotong dengan baik bila menggunakan metode ini.Metode parafin merupakan cara pembuatan preparat permanen yang menggunakan parafin sebagai media embedding dengan tebal irisan kurang lebih mencapai 6 mikron-8 mikron. Metode ini memiliki irisan yang lebih tipis daripada menggunakan metode beku atau metode seloidin yang tebal irisannya kurang lebih mencapai 10 mikron.Langkah-langkah penting dalam metode ini antara lain fiksasi, pencucian, dehidrasi, penjernihan, embedding, penyayatan (section), penempelan, pewarnaan, dan penutupan. Larutan fiksasi merupakan larutan yang mampu bereaksi dan menandai suatu sel dengan spesimen diiris setipis mungkin.Hal ini mendukung laju fiksasi dalam sel (Botanika 2008).
Prosedur pembuatan sediaan atau preparat menggunakan metode parafin pada umunya sama baiknya antara jaringan hewan dan tumbuhan. Pertama–tama organ yang akan dijadikan preparat diisolasi terlebih dahulu, kemudian difiksasi anatara 12-24 jam. Fiksasi merupakan usaha untuk mengeraskan dan mempertahankan elemen sel atau jaringan, dengan tujuan mencegah proses autolisis dan serangan bakteri, mencegah perubahan bentuk atau volume jaringan yang difiksasi selama tahapan proses selanjutnya, membuat jaringan lebih baik dalam menyerap zat warna, mengubah indeks bias bagian-bagian sel sehingga lebih mudah dilihat dengan mikroskop, mempertahankan jaringan dalam kondisi mendekati keadaan waktu hidup. Sebelum difiksasi larutan harus dicuci dengan 3 tahapan, yaitu Rinsing yang bersifat superfisial, untuk membuang sedimen atau cairan yang ada di permukaan dengan cara mencelupkan material dalam cairan. Soaking (pencucian yang sedikit lebih intensif)dengan cara merendam material di dalam cairan yang mengandung mordan atau zat warna.Washing dengan cairan yang dipakai untuk pencucian selalu diganti yang bertujuan membuang zat-zat yang berlebihan dan tidak terikat dengan jaringan.Lalu didehidrasi dengan alkohol bertingkat dan diclearing. Dehidrasi adalah proses menarik air dari jaringan dengan menggunakan bahan-bahan kimia tertentu, bahan kimia yang digunakan harus mampu mengusir air dari jaringan dan menggantikan tempatnya, bisa diganti/bisa bercampur dengan zat penjernih dan tidak mengganggu zat yang telah difiksir, misalnya: menjadi lemah atau memperkeras.
Proses infiltrasi bertujuan agar parafin yang masuk berfungsi sebagai penyangga jaringan saat diiris dengan mikrotom,beberapa yang harus diperhatikan pada parafin yaitu memiliki titik lebur yang konstan,  parafin lunak memiliki titik lebur 40 - 45oC, parafin keras memiliki titik lebur  50 - 58oC, bertekstur licin, dan bersih dari kotoran (air,minyak,&debu).
Pada organ hewan, Embedding merupakan proses pelilinan suatu organ dengan menggunakan kotak kertas. Proses ini memudahkan dalam membuat irisan yang sangat tipis dengan menggunakan mikrotom. Beberapa keuntungan menggunakan kotak kertas dalam embedding yaitu bisa membuat arah sayatan dan menandai suatu jaringan. Jaringan atau sampel akan ditanam di kotak kertas, dengan terlebih dahulu parafin membeku pada bagian dasar dalam kotak dan setelah penempelan jaringan dilanjutkan dengan penutupan dengan parafin sampai membeku. Dan beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam penanaman:
         Parafin harus bersih dan murni.
         Peralatan spt. pinset & jarum bersih dari kotoran.
         Penanaman dilakukan dekat oven dan lampu bunsen/spirtus.
         Pemberian label untuk material yang ditanam.
            Proses penyayatan (sectioning) diawali dengan pengirisan blok parafin dengan scalpel, sehingga permukaan blok parafin yang akan diiris dengan mikrotom berbentuk segi empat. Letak mata pisau pada mikrotom menentukan hasil yang diperoleh. Dalam penyayatan (sectioning, ada beberapa factor yang mempengaruhi keberhasilan penyeyatan blok parafin tersebut, diantaranya kualitas parafin, proses infiltrasi yang baik, posisi material di dalam blok parafin, penempelan blok parafin pada holder, suhu pada pisau, blok parafin, ruang kerja, kekerasan atau kerapuhan material, dan  sudut antara pisau dan material.
            Hasil sayatan dapat diambil dengan menggunakan kuas dan pita hasil sayatan ditempel pada kaca objek dengan menggunakan meyer albumin. Pita parafin dapat melengkung dan disebabkan oleh faktor seperti mata pisau yang tumpul, sisi atas dan bawah blok parafin tidak sejajar, sisi bawah blok parafin tidak sejajar dengan mata pisau, posisi material tidak tepat di tengah blok parafin dan material berbentuk tidak teratur dan besar.
Kaca obyek tersebut diletakkan di atas meja penangas (haeting plate).Meyer albumin memiliki kandungan putih telur dan gliserin dan merupakan pelakat alami yang sangat baik (Hugo 2008). Sedangkan proses pewarnaan dilakukan setelah preparat dideparafinasi dengan merendam preparat pada xylol. Salah satu pewarna metode parafin pada jaringan hewan adalah hematoxylin dan Eosin.Zat warna hematoxilin ini bersifat aquaosa.
Beberapa macam mikrotom, yaitu :
1.      Mikrotom geser (sliding mikrotome). Pada alat ini, jaringan tetap berada pada tempatnya, sedang pisaunya yang bergerak. Pada umumnya jaringan yang akan dipotong dengan mikrotom geser adalah jaringan yang tanpa penanaman (embedding) terlebih dulu. Disini tidak akan terjadi pita irisan. Jaringan yang akan diiris sebelumnya dapat diwarnai dengan pewarnaan tunggal, ataupun tanpa pewarnaan terlebih dahulu. Metode ini banyak dikerjakan untuk pengirisan jaringan tumbuh-tumbuhan.
2.      Mikrotom beku (freezing microtome). Alat ini dihubungkan dengan tabung berisi CO2 dingin, melalui suatu pipa karet. Mikrotom ini, keadaannya sama dengan mikrotom geser yaitu jaringan tetap berada pada tempatnya sedang pisau mikrotomnya yang bergerak ke muka dan ke belakang.
3.      Mikrotom putar (rotary microtome). Berbeda dengan 2 jenis mikrotom diatas, yaitu bahwa pada mikrotom ini, pisau tetap pada tempatnya sedang jaringannya yang bergerak ke atas dan ke bawah. Jenis mikrotom ini yang biasanya digunakan untuk pembuatan sediaan irisan dengan metode parafin (Rina, 2010).



Kelebihan dari metode parafin ini adalah:
a.       Irisan dapat jauh lebih tipis daripada menggunakan metode beku maupun seloidin, dengan metode parafin tebal irisan dapat mencapai rata-rata 6 mikron.
b.      Irisan-irisan yang bersifat seri dapat dikerjakan dengan mudah.
c.       Prosesnya lebih cepat dari metode lain.
Kelemahan dari metode ini adalah:
a.       Jaringan menjadi keras, mengerut dan mudah patah.
b.      Jaringan-jaringan yang besar tidak dapat dikerjakan, bila menggunakan metode ini.
c.       Sebagian besar enzim-enzim akan larut dengan metode ini (Rina, 2011).
Objek Preparat (Burung Dara)
            Columba domestica merupakan hewan berdarah panas dan mempunyai ciri khas yaitu tubuhnya terbungkus oleh bulu yang berfungsi untuk mengatur suhu tubuhnya. Berkembang biak dengan ovipar atau bertelur. Columba domestica mampu mengenal habitatnya.Ketika burung ini dilepas maka ia akan kembali ke sarangnya.Columba domestica kebanyakan hidup di pepohonan, beberapa diantaranya hidup di tanah dan species lainnya hidup di batu karang. Burung merpati merupakan hewan peliharaan yang hidup berkelompok dan umumnya membuat sarang yang sederhana. Columba domestica diambil sebagai bahan praktikum karena mempunyai tubuh yang relatif besar sehingga mudah diamati.Harganya yang cukup murah dan mudah didapat juga menjadi pertimbangannya.Disamping itu, Columba domestica juga mempunyai organ-organ yang lengkap untuk mewakili class aves.
Bulu pada Columba domestica (merpati) mempunyai struktur epidermis yang fleksibel, mengkilap dan tahan air.Beberapa tipe bulu dari penutup badan pada merpati adalah bulu luar dan bulu dalam atau bulu halus.Bulu luar adalah datar (kecuali untuk bulu yang halus, letaknya lebih rendah, yaitu pada dasarnya) dan bersama-sama dipegang oleh duri kecil (Alters, 1999). Columba domestica memiliki pendukung tubuh yang berada pada kaki bagian belakang, dan sisa dari kaki bagian berubah menjadi bagian yang membantu untuk terbang. Sayap tersusun atas bulu-bulu yang banyak tergabung untuk menutupi lengan, sebagai konsekuensi dari kaki depan atau lengan yang termodifikasi tersebut dan dengan beban yang berat pada saat terbang maka tidak dapat digunakan untuk menahan atau memegang makanan. Merpati menghasilkan bahan-bahan yang bersifat fecal, untuk mengurangi berat beban pada saat terbang. Merpati tidak mempunyai tempat persediaan untuk menyimpan makanan yang sesuai sehingga dengan segera akan dikeluarkan (Walter, 1965). 
Menurut Jasin (1989), klasifikasi dari Columba domestica adalah sebagai berikut:
Divisi               :           Carinatae
Phylum            :           Chordata
Subphylum      :           Vertebrata
Class                :           Aves
Subclass          :           Neornithes
Ordo                :           Columbiformes
Familia            :           Columbidae
Genus              :           Columba
Spesies            :           Columba domestica






















BAB III
METODOLOGI
3.1              Waktu dan Tempat              
Hari/tanggal : Jumat/ 2, 9, 16, dan 23 Juni 2012
Tempat         : Laboratorium Fisiologi PLT UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
3.2              Alat dan Bahan
Alat yang digunakan  dalam praktikum ini adalah penggaris, silet, pipet tetes, botol vial, botol you C1000 atau botol kaca, pinset, balok, scalpel, pisau, nampan, kertas kalender, gelas ukur, oven, lemari asam, dan mikrotom putar.
Bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah air, alkohol 30%, alkohol 45%, alkohol 50%, alkohol 70%,  alkohol 96%, eter alkohol, xilol, hard parafin, FAA, dan organ hati burung Merpati.

3.3       Cara Kerja
 


BAB IV
PEMBAHASAN
Pada praktikum kali ini yaitu pembuatan preparat jaringan hati burung, menggunakan metode parafin. Hati adalah sebuah organ dalam vertebrata yang memainkan peran penting dalam metabolism dan memiliki beberapa fungsi dalam tubuh termasuk penyimpanan glikogen, sintesis protein, danpenetralan obat.
Metode parafin termasuk metode sayatan yang banyak digunakan, karena hampir semua jaringan dapat dipotong dengan menggunakan metode ini. Pembuatan preparat jaringan hewan memiliki perbedaan dengan preparasi jaringan tumbuhan. Perbedaan terletak pada:
-          Pada jaringan hewan dilakukan langkah pembiusan, dan pencucian dengan larutan fisiologis (NaCl 0,8 – 0,9%).
-          Pada jaringan tumbuhan dilakukan langkah aerasi yaitu pengeluaran udara dari jaringan.
-          Pada jaringan hewan dilakukan infiltrasi langsung dengan hard parafin sedangkan pada jaringan tumbuhan menggunakan minyak parafin dan soft parafin terlebih dahulu. Hal ini dikarenakan pada sel hewan tidak terdapat dinding sel sehingga parafin bisa masuk ke dalam sel atau jaringan lebih cepat.
Tahapan-tahapan pada pembuatan preparat metode parafin meliputi:
1.      Pembiusan (Narcose)
Pembiusan bertujuan agar lebih mudah dalam melakukan pembedahan dan pengambilan jaringan hewan. Selain itu, pembiusan dilakukan agar hewan dalam keadaan pingsan, bukan mati, sehingga jaringan yang diambil sebagai objek masih dalam keadaan segar. Pembiusan dilakukan menggunakan senyawa kimia antara lain: Eter, Kloroform, Prokain, Morfin HCl, Methane, Alkohol, Mentol, Kloreton, Kokain, dan Garam Magnesium. Namun pada praktikum kali ini digunakan senyawa Eter.
Pembiusan dilakukan dengan cara menutup lubang hidung (nostril) dari hewan –burung- menggunakan kapas yang telah dilumuri oleh Eter sebelumnya. Teknik ini dilakukan hingga burung terlihat pingsan.



2.      Pengambilan Objek (Collecting)
Pengambilan objek dilakukan dengan cara pembedahan terhadap burung sehingga dapat diambil organ yang akan dibuat preparatnya. Pada praktikum kali ini diambil organ hati burung. Organ yang telah berhasil diambil kemudian dipotong dengan ukuran 0.5x0.5x0.5 cm. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pengambilan jaringan: objek masih dalam keadaan segar, menggunakan pisau yang tajam agar tidak merusak jaringan, dan hindari terjadinya luka.
3.      Pencucian (Washing)
Pencucian dilakukan karena jaringan yang diambil pada hewan seringkali dalam kaedaan kotor oleh darah. Selain itu jaringan hewan lebih cepat mengalami dehidrasi yang dapat merusak jaringan, maka dari itu perlu secepat mungkin dimasukkan ke dalam laruitan garam fisiologis. Larutan yang biasa dipakai dalam proses pencucian antara lain: NaCl, dan Larutan Ringer. Pada praktikum kali ini digunakan larutan NaCl 0.8% selama 15 menit. Pencucian tidak dilakukan menggunakan air adalah karena jika menggunakan air dapat menyebabkan pembengkakan pada sel.
4.      Fiksasi (Fixation)
Bertujuan untuk mencegah proses autolisis dan serangan bakteri, mencegah perubahan bentuk atau volume jaringan yang difiksasi selama tahapan proses selanjutnya, membuat jaringan lebih baik dalam menyerap zat warna, mengubah indeks bias bagian-bagian sel sehingga lebih mudah dilihat dengan mikroskop, mempertahankan jaringan dalam kondisi mendekati keadaan waktu hidup serta mempertahankan elemen-elemen sel atau jaringan agar tetap pada tempatnya dan tidak mengalami perubahan bentuk maupun ukuran. Pada proses fiksasi kali ini digunakan larutan fiksatif majemuk yaitu FAA (Formaldehyde Acetic Acid). Digunakannya larutan fiksatif majemuk adalah lebih menguntungkan, karena: kelemahan salah satu zat fiksatif ditutup oleh kelebihan dari zat fiksatif yang lain.
Fiksasi dilakukan selama 12 jam di dalam botol vial.
5.      Dehidrasi (Dehydration)
Bertujuan untuk mengeluarkan air dari jaringan yang telah difiksasi. Air yang ditarik dari dalam jaringan akan digantikan oleh larutan yang nantinya dapat bercampur atau larut dalam parafin. Dehidran yang digunakan kali ini yaitu alkohol. Selain harganya relatif murah, alkohol juga memberikan hasil yang cukup baik. Dalam proses dehidrasi, digunakan serangkaian seri alkohol dengan konsentrasi berbeda-beda dimulai dari yang paling rendah ke konsentrasi yang tinggi (30%-45%-50%-70%-96%). Proses ini dilakukan secara bertahap agar air dikeluarkan dengan sempurna dan menjaga agar tidak terjadi perubahan pada struktur sel yang diakibatkan perubahan lingkungan secara tiba-tiba. Dehidrasi dilakukan dengan selang wakttu 1 jam namun pada alkohol 70% jaringan dimalamkan selama 1 minggu setelah itu dilanjutkan ke alkohol dengan konsentrasi 96%. Proses dehidrasi yang sempurna ditandai oleh perubahan jaringan menjadi transparan saat proses penjernihan.
6.      Penjernihan (Clearing)
Penjernihan merupakan usaha yang bertujuan untuk membuat jaringan menjadi transparan dan menggantikan tempat dehidran dalam jaringan dengan medium penjernih sebelum dilakukan proses penanaman pada parafin. Sebelum dilakukannya penjernihan, jaringan dimasukkan terlebih dahulu ke dalam larutan perantara yaitu alkohol 96% : Xilol (1:1) selama 1 jam. Hal ini dilakukan tentunya agar tidak terjadi perubahan secara tiba-tiba pada jaringan yang dapat menyebabkan perusakan pada jaringan. Setelah itu barulah dilakukan penjernihan menggunakan larutan Xilol selama 1 jam. Digunakannya Xilol yaitu karena Xilol relatif murah, bekerja cepat  dalam menggantikan posisi alkohol dalam jaringan. Akan didapatkan hasil yaitu jaringan menjadi transparan. Namun perendaman jaringan dengan Xilol tidak boleh terlalu lama karena akan menyebabkan jaringan kering dan rapuh. Setelah itu jaringan dimasukkan kembali ke dalam larutan perantara sebelum dilakukannya infiltrasi. Yaitu menggunakan larutan Xilol : hard parafin (1:1) selama 1 jam di dalam oven.
7.      Infiltrasi (Infiltration)
Proses ini bertujuan untuk menyusupkan parafin ke dalam jaringan. Dengan menggunakan hard parafin dan bertahap sebanyak 3 kali dengan selang waktu 1 jam di dalam oven. Dilakukan di dalam oven adalah untuk mempertahankan titik lebur hard parafin yang berkisar antara 560C-580C.

8.      Penanaman (Embedding)
Penanaman adalah proses penanaman material ke dalam cetakan  berisi parafin cair, yang bila dingin akan mengeras sehinggan\ memudahkan penyayatan dengan mikrotom. Cetakan dapat berupa karton polos yang dibentuk persegi panjang. Hal-hal yang perlu diperhatikan antara lain:
-          Tidak boleh ada gelembung udara yang menyebabkan tidak terbentuknya pita saat dipotong dengan mikrotom
-          Parafin harus murni dan bersih dari kotoran
-          Peralatan seperti pinset harus bersih
-          Sebaiknya diberikan label
-          Penanaman sebaiknya dilakukan di dekat oven atau bunsen.
9.      Penyayatan (Sectioning)
Sebelum dilakukan penyayatan jaringan yang berada di dalam parafin yang berbentuk kotak persegi panjang, dipotong terlebih dahulu sesuai dengan jumlah jaringannya. Misalnya dalam satu persegi panjang terdapat 3 jaringan. Kemudian potongan tersebut ditempelkan pada holder untuk memudahkan saat penyayatan. Holder yang digunakan pada praktikum kali ini berupa balok kayu.
Penyayatan bertujuan untuk membentuk pita parafin yang berisi jaringan. Penyayatan kali ini menggunakan mikrotom putar (rotary microtome). Mikrotom ini menghasilkan pita sayatan dengan ketipisan hinggan 0.5 mikron.. Bisa untuk segala macam jaringan kecuali yang sangat besar atau sangat keras. Prinsip kerjanya yaitu pisau tetap pada tempatnya, holder yang bergerak.
Pada praktikum kali ini hanya dilakukan hingga tahap penyayatan (sectioning). Pada tahap ini dilakukan perbandingan antara parafin yang berkualitas baik, dan parafin dengan kualitas yang lebih rendah. Pada akhirnya diperoleh hasil yaitu jika menggunakan parafin yang berkualitas baik maka akan terbentuklah pita hasil sayatan dengan mikrotom. Sebaliknya, jika menggunakan parafin yang berkualitas lebih rendah maka tidak dihasilkan pita sayatan melainkan hanya serbuk-serbuk parafin yang dikarenakan parafin hancur.



BAB V
PENUTUP

5.1       Kesimpulan
            Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan, dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut:
1.      Metode parafin digunakan karena hampir semua jaringan dapat dipotong dengan menggunakan metode ini.
2.      Tahapan dalam membuat preparat jaringan hewan adalah pembiusan (narcose), pengambilan jaringan (collecting), pencucian (washing), fiksasi (fixation), dehidrasi (dehydration), penjernihan (clearing), infiltrasi (infiltration), penanaman (embedding), penyayatan (sectioning), penempelan (afiksi), dan pewarnaan (staining).
3.      Hasil penyayatan ditentukan oleh kualitas parafin, kerapuhan jaringan dan pisau mikrotom.













DAFTAR PUSTAKA
Dasumiati M.Si. 2009. Diktat Praktikum Mikroteknik. Jakarta: Prodi Biologi Fakultas Sains
            dan Teknologi UIN Syarif Hidayatullah
Gunarso, W. 1986. Pengaruh Dua Jenis Cairan Fiksatif yang Berbeda Pada Pembuatan Preparat dari Jaringan Hewan Dalam Metode Mikroteknik Parafin. Bogor: IPB Press
International Journal Leprosy and Paraffin. http://www.leprosy-ila.org/leprosyjournal/partial/247.html. Diakses pada tanggal 25 Juni 2012

Sugiharto. 1989. Mikroteknik. Bogor: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi Pusat Antar Universitas. Ilmu Hayat-Institut Pertanian Bogor.

Wararindi. 2011. Membuat Preparat Organ. http://wararindi.wordpress.com/2011/06/07/ membuat-preparat-organ/. Diakses; Sabtu, 2 Juni 2012.

0 komentar:

Poskan Komentar

Pengikut

Diberdayakan oleh Blogger.